PERJALANAN CINTA GURU BIOLOGI


Elyastika Paska, S.Si., lahir di Kabanjahe pada 9 April 1971. Sejak kecil, ia tumbuh dan belajar di kota yang sama—menapaki bangku pendidikan dari SD Negeri 7 Kabanjahe, SMP Maria Goretti Kabanjahe, hingga SMA Negeri 1 Kabanjahe. Masa-masa sekolah itulah yang perlahan membentuk cara pandangnya terhadap hidup, meski saat itu ia belum pernah membayangkan akan menjadi seorang guru.

Saat lulus SMA, impian pertamanya adalah masuk jurusan Kedokteran Gigi. Namun takdir membawanya ke pilihan kedua Jurusan Biologi di Universitas Sumatera Utara. Awalnya, Elyastika tidak pernah bercita-cita menjadi seorang guru. Ia justru ingin bekerja di laboratorium, berinteraksi dengan penelitian dan mikroskop. Sampai suatu hari, kenangan tentang guru biologi SMA-nya, Pak ST, kembali terlintas. Cara mengajar yang sederhana, penuh kesabaran, dan mampu menyalakan rasa ingin tahu murid-muridnya perlahan mengubah cara pandangnya. Dari sanalah muncul benih inspirasi bahwa ilmu bukan hanya untuk diteliti, tetapi juga untuk dibagikan.


Di tengah perjalanan kuliahnya, kisah cinta lama kembali menyapa. Elyastika pernah bersekolah satu SMP dengan Madia Sebayang, namun mereka berpisah saat SMA dan tak pernah berjumpa lagi. Tak disangka, takdir mempertemukan mereka kembali di masa kuliah. Pertemuan itu menghidupkan kembali rasa yang sempat hilang, hingga akhirnya mereka resmi menjalin hubungan. Pada 31 April 1998, Elyastika dan Madia Sebayang menikah dan membangun keluarga kecil yang hangat, dikaruniai dua anak: Jean Prisila Sebayang dan Antonius Gianelli Sebayang.


Perjalanan Elyastika sebagai guru dimulai pada 1 April 2004, ketika ia mendapat tugas pertama di SMA Negeri 1 Tiganderket. Di sanalah ia benar-benar merasakan arti menjadi guru bukan hanya mengajar tentang sel, ekosistem, dan genetika, tetapi juga membentuk karakter manusia muda.


Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam hidupnya terjadi saat ia menghadapi seorang siswa yang dikenal bandel. Siswa itu sering ribut, duduk di bangku depan, dan bersikap kurang sopan. Dalam emosi sesaat, Elyastika menampar siswa tersebut. Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Siswa itu tidak melawan, tidak membantah, hanya diam. Tahun-tahun berlalu. Saat siswa itu lulus dan suatu hari bertemu kembali dengannya, sikapnya sangat berbeda. Tidak seperti siswa unggul lain yang cenderung cuek, anak itu justru menyapa dengan ramah dan penuh hormat. Padahal ia pernah menerima perlakuan keras darinya.


Peristiwa itu menyentuh hati Elyastika hingga kini. Ia menyadari bahwa setiap anak menyimpan cara sendiri untuk belajar dan memaafkan. Sejak saat itu, ia semakin percaya bahwa menjadi guru bukan soal kekuasaan, melainkan kepercayaan.


Kini, Elyastika Paska dikenal sebagai guru biologi yang tegas namun peduli. Di sela kesibukannya mengajar, ia menyalurkan hobi di bidang olahraga dan seni. Ia tinggal di Jalan Veteran Gang Kembang No. 8, menjalani hidup dengan prinsip sederhana yang selalu ia pegang dan ajarkan pada murid-muridnya:


“Jangan takut, percaya saja.”


Sebuah kalimat yang lahir dari perjalanan Panjang tentang mimpi yang berubah arah, cinta yang kembali menemukan jalannya, dan pengabdian yang tumbuh dari inspirasi seorang guru.

#TugasSiswa

Kelas XII F1

SMAN 1 Tiganderket Tahun 2026

Fransiska - Jedi - Alifa - Melisa - Riski Aulia - Tini 

0 Komentar